Jadi Narasumber Semalam
Matahari mulai tenggelam, tim Cydoc (Cyber Document) yang diwakili oleh Seni Ariyanti, Dwi Agustini, dan Irwansyah sudah mulai bersiap-siap untuk wawancara di radio. Tepat pukul 18.30 WITA, rombongan dari PPLH Bali siap berangkat dengan menggunakan kendaraan milik Catur Yudha Hariani, Direktur PPLH Bali yang akrab kami sapa Mbak Catur. Studio yang akan kami datangi adalah studio radio Bali FM (98.90) yang berlokasi di jalan Pundak 9x Batubulan, Gianyar. Rasa gugup dan canggung mengiringi setiap langkah menuju ruangan studio. Beberapa menit berlalu, suara hentakan kaki menaiki tangga yang kami lewati tadi semakin keras ke arah kami. Muncullah seorang pria berjaket yang tak asing bagi kami. Anton Muhajir, pria itu yang notabene pernah melatih tim Cyber Document tentang Blog & Website. Anton Muhajir atau lebih akrab dipanggil Mas Anton mengundang kami untuk menghadiri wawancara Radio Kesehatan dan Pendidikan ini.
Kami dipersilahkan memasuki ruangan wawancara, dan berkenalan dengan broadcast Bali FM saat itu, Ajun Putra. Kami semakin deg-degan, seakan minggu malam (18/04) itu menjadi malam yang akan menghujani kami dengan beribu pertanyaan dari sang penyiar. Wawancara malam itu seputar blog Bali Gadang dan kegiatan kami selama di PPLH. Catur Yudha menjelaskan tentang kegiatan PPLH secara mendetail beserta tim-tim yang terbentuk di PPLH.
PPLH dibentuk sebagai wujud keprihatinan terhadap berbagai masalah lingkungan. ”Banyak anak muda menggunakan masa remajanya untuk melakukan hal yang merugikan. Disinilah peran PPLH Bali yaitu untuk mengajak dan mengarahkan anak sekolah khususnya SMA/SMK se-Denpasar dan sekitarnya untuk peduli terhadap lingkungan dan sungai”, ungkap Catur Yudha. Hal ini juga dialami oleh Dwi Agustini yang menyatakan bahwa dewasa ini sungai-sungai di Bali khususnya di Kota Denpasar sudah banyak tidak berfungsi sebagaimana mestinya. (Baca artikel sebelumnya Maysaroh : “Kami Sudah Biasa MCK di Sungai” mengenai keadaan di sungai Badung)
Kami juga ditanyai seputar pengalaman saat menelusuri sungai di Kota Denpasar, pendapat tentang lingkungan utamanya sungai yang mulai tercemar, dan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masalah lingkungan lainnya. Satu persatu dari kami menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dimulai dari Seni, Dwi, dan Irwan. Perasaan gugup tak karuan menghampiri kami, saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ajun Putra. Maklumlah, ini adalah kali pertama kami memasuki dunia broadcast radio. Kami yang biasanya mewawancarai orang-orang, malah kali ini kami yang diwawancarai. Deg-degan, itulah yang bisa kami rasakan.
Usai Ajun melontarkan pertanyaannya, kami pun break sebentar. Saat break kami mendapat kesempatan untuk me-request lagu. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, satu per satu dari kami pun me-request lagu. Pukul 19.35, siaran pun kembali dimulai. Kami kembali dihujani pertanyaan oleh Ajun. Akhirnya sampailah pada pertanyaan terakhir yakni seputar pendapat dan tanggapan kami terhadap keadaan sungai di Denpasar. Dengan perasaan tak sabar kami bertiga pun menjawabnya. Kami menyatakan keprihatinan dengan kondisi sungai sekarang. ”Sungai di Denpasar telah tercemar akibat perilaku manusia sendiri. Sungai sekarang menjadi mulifungsi, tidak hanya untuk membuang sampah, tetapi digunakan sebagai tempat mencuci, MCK, dan sebagainya. Hal ini tentu berdampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungan”, tutur Seni.
Wawancara yang sangat menyenangkan ini pun harus berakhir pukul 20.00. Perasaan lega akhirnya datang. Usai wawancara, kami bertiga (Seni, Dwi, Irwan) kompak merasa menyesal. “Kenapa sih wawancaranya harus selesai?, kami kan masih ingin ditanya-tanya lagi!”, seru kami bertiga. Undangan ke Radio Bali FM ini banyak memberikan pengalaman, kami dapat mengetahui seputar kegiatan penyiar saat broadcast. Kami yang masih awam dalam hal siaran, sangat berterima kasih kepada Catur Yudha dan Anton Muhajir yang telah memberikan kesempatan mengkampanyekan kepedulian lingkungan lewat radio Bali FM.

