Lompat ke isi

Bersahabat dengan Sampah Plastik

Mei 15, 2010

Aktivitas manusia memiliki kaitan yang erat dengan sampah, bak ibu dengan anaknya. Mulai dari sampah organik hingga anorganik. Sampah organik tidaklah begitu merugikan bagi lingkungan, karena sampah organik masih bisa diuraikan oleh alam. Kini yang menjadi masalahnya adalah sampah anorganik, seperti plastik karena sampah ini sulit didegradasi oleh alam. Plastik setiap hari dijumpai di lingkungan seperti pada kemasan makanan hingga minuman. Keistimewaan plastik yang ringan, transparan, dan tidak tembus air menjadikannya sangat digemari oleh pengusaha sebagai kemasan produknya. Hal ini tentu berakibat buruk bagi lingkungan sekitar kita.

Menurut data Yayasan Wisnu tahun 2007, rata-rata volume sampah yang dihasilkan warga Kota Denpasar sebesar 1.029 m3 per hari. Dari jumlah tersebut sekitar 689.43 m3 merupakan sampah organik (berupa daun, tumbuhan, sisa makanan), 267.54 m3 sampah anorganik, dan sisanya jenis lain. Jika dikumpulkan, dalam sebulan terdapat sekitar 8026.2 m3 sampah plastik, atau 96314.4 m3 selama setahun. Jumlah ini tentu sangat mengkhawatirkan, terlebih sampah plastik sulit untuk didaur ulang. Kalaupun alam dapat mendaurnya,memerlukan waktu 200 sampai 1000 tahun agar plastik tersebut dapat terurai dengan baik. Hal ini tentu memerlukan pengelolaan. Jika memilih jalan pembakaran, akan mengakibatkan polusi di udara yang dapat membahayakan mahkluk hidup termasuk manusia. Oleh karena itu diperlukan solusi yang tepat dalam mengolah sampah dengan teknologi  yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan memanfaatkan kembali sampah plastik menjadi produk kerajinan seperti tas, dompet, tempat pensil dan sebagainya. Hal ini telah dilakukan di kota Yogyakarta yang memanfaatkan sampah plastik menjadi suatu karya yang memiliki nilai jual.

PPLH Bali, lembaga non pemerintahan yang bergerak di bidang lingkungan pun tak mau ketinggalan. PPLH Bali sejak tahun 2009 memulai aksinya mencontoh kreativitas yang dilakukan masyarakat di kota pelajar tersebut. Kreativitas ini diciptakan sebagai wujud peduli terhadap lingkungan yang dimotori oleh salah satu karyawan PPLH Bali, Made Hariana.

Program ini tak hanya mengolah sampah plastik menjadi tas, namun juga sebagai bentuk penyadaran terhadap masyarakat akan bahaya sampah plastik. Jika sampah plastik dimanfaatkan dengan baik, maka akan menghasilkan suatu karya yang dapat memiliki nilai jual. Upaya penyadaran masyarakat antara lain dilakukan dengan mengajak serta masyarakat sekitar, seperti karyawan PPLH, pelajar SD, dan Lembaga Sosial Masyarakat untuk turut serta memilah sampah plastik. Terkadang sampah plastik  juga diperoleh dengan membeli dari pemulung dan warung-warung dengan harga 4000/kg.

Proses pengerjaan tas plastik ini cukup menarik karena dalam pembuatannya kita dapat memilih produk yang sesuai selera kita. Adapun bahan dan alat yang harus disiapkan untuk membuat tas antara lain, sampah plastik (kemasan plastik), mesin jahit, kain pelapis, dan resleting. Pertama sampah plastik harus dipilah agar dapat diketahui sampah yang kualitasnya masih baik dengan sampah yang kualitasnya sudah buruk atau robeknya tidak rapi. Selanjutnya sampah yang telah dipilah dicuci untuk membersihkan  sisa-sisa makanan yang menempel. Usai pencucian, sampah-sampah tersebut harus dipilah kembali sesuai jenis produknya. Kemudian kita dapat potong-potong dengan cutter untuk membuet ukuran yang sama. Jika ukuran telah sama, plastik tersebut dijahit dan disambung, serta dilapisi dengan kain pelapis agar terlihat lebih tebal.

Selanjutnya kita dapat membentuknya sesuai keinginan misalnya kotak pensil ataupun dompet. Plastik yang sudah dibentuk, ditambahkan pinggiran agar lebih rapi. Terakhir, kita dapat menambahkan resleting pada barang yang telah dibuat. Tas, kotak pensil, ataupun dompet siap untuk dipakai.

Produk Olahan Sampah Plastik

Cukup panjang proses untuk membuatnya. Kendalapun tak jarang dihadapi selama memproduksi tas plastik ini, antara lain sulitnya memperoleh plastik yang masih bagus, sulitnya menjahit karena kurangnya tenaga kerja, serta sulitnya dalam melakukan pemasaran akibat kurangnya minat masyarakat lokal dengan produk daur ulang. ”Jika ada masyarakat lokal yang berminat, mereka adalah orang-orang yang bergelut dalam bidang lingkungan”, ungkap Made Hariana. Made Hariana mengajak seluruh masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik, serta memanfaatkan lagi sampah plastik yang sudah ada menjadi barang yang siap pakai. Bersahabat dengan sampah plastik, siapa takut? (BGC)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.