“Anak Sungai” Pelopor Peta Hijau SMA di Indonesia
“Anak Sungai”, begitu anggota Tim Green Map senang disebut. Tak perlu menjadi sosok anak sungai sebenarnya (tinggal di pinggir sungai-red), anggota Green Map Team telah mengenali seluk-beluk suatu sungai dalam sehari saja.
Kegiatan “anak sungai” tak hanya dilakukan dalam ruangan, tapi juga di lapangan. Seperti pagi itu, 14 Februari 2010 anggota Tim Green Map akan praktek langsung membuat Green Map Sungai Ayung. Green Map (Peta Hijau) merupakan peta yang dibuat dan dilengkapi tanda (ikon) untuk membantu pemakainya mengenali lebih lengkap kenyataan lingkungan ekologis dan budaya di suatu kawasan, terutama perkotaan. Proses penandaan memanfaatkan 125 ikon Sistem Peta Hijau (Green Map System Icons) yang dikembangkan jaringan global Green Map System (www.greenmap.org).
Berbekal beberapa lembar kertas dan alat tulis, “anak sungai” menuju Sungai Ayung di sekitar Jl. By Pass Ngurah Rai, tepatnya di Desa Kuwum, Banjar Kertapura, Denpasar. Pemukiman kumuh terpampang jelas di hadapan para pembuat peta hijau saat tiba di lokasi. Sungai Ayung sendiri yang melintasi daerah itu nampak keruh dan banyak sampah ikut terbawa di dalamnya. Pemukian yang nampak seperti rumah-rumah kolong jembatan di tengah kota metropolitan, Jakarta. Ternyata Bali yang terkenal sebagai tempat pariwisata mempunyai versi kecilnya.
Tim Green Map Mempresentasikan Hasil Kegiatan
Tak mau terbuai terlalu lama dengan kondisi di lapangan, “anak sungai” segera mencari berbagai informasi untuk melengkapi peta hijau yang akan mereka buat. Anggota tim dibagi menjadi beberapa kelompok, termasuk kelompok yang mewawancarai warga. Sebagian besar warga di sana yang berpenghasilan dari kerja serabutan, mulanya tidak terlalu menanggapi pertanyaan yang dilontarkan “anak sungai”. “Banyak yang hanya menjawab dengan satu kalimat: saya tidak tahu apa-apa atau saya bukan penduduk asli disini”, ungkap Yogi Atmajaya, koordinator Tim Green Map. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi “anak sungai”. Mereka harus dapat mengumpulkan data yang akurat dan lengkap sementara yang mereka hadapi adalah orang-orang yang seolah menutup-nutupi masalah sosial di sana.
Setelah beberapa jam wawancara, akhirnya diperoleh informasi penyebab tercemarnya Sungai Ayung oleh sampah. “Tercemarnya Sungai Ayung juga disebabkan oleh kesalahan penduduk di lingkungan ini. Warga cenderung membuang sampah ke sungai karena tidak tahu cara mengolah sampah rumah tangga”, ungkap Maharani salah seorang anggota Green Map.
“Namun, air sungai tetap dimanfaatkan warga untuk MCK (Mandi Cuci Kakus)”, tambah Rani.
Ada yang mewancarai warga, ada juga yang getol menggambar sketsa sungai. Mulai dari keadaan alamnya hingga aktivitas-aktivitas warga seperti kegiatan mencuci dan buang air di sungai. Menambahkan plot pada peta juga dilakukan beberapa orang. Plot adalah titik yang dibuat untuk menandai lokasi suatu objek yang akan ditentukan ikonnya saat rapat ikon.
Istilah rapat ikon digunakan untuk rapat dimana anggota Tim Green Map berdiskusi mengenai ikon yang tepat pada suatu lokasi dengan didampingi Ferry dan Inu, dua orang Pembina yang diundang langsung dari Yogyakarta. “Ikon yang kami gunakan adalah ikon version 3 (www.greenmap.org/icons)”, ungkap Inu. Dalam menentukan ikon yang tepat, ada beberapa kualifikasi untuk objek di masing-masing ikon. Sesuai atau tidak, hal itu dibicarakan bersama-sama dalam rapat. Kadang suatu objek dapat memiliki lebih dari satu ikon yang cocok. Apabila terdapat objek yang tidak lolos untuk kualifikasi pada ikon manapun, pembuat peta dapat menciptakan ikon sendiri yang disebut ikon lokal (local icon).
Sungai Ayung dipilih karena merupakan salah satu sungai besar di Bali. “Sebelum pelatihan Green Map sudah ada pelatihan Identifikasi Flora & Fauna di sungai Ayung. Jadi kami mengambil lokasi yang sama seperti tim lain agar hasilnya bisa kita diskusikan dengan tim lain”, ungkap Ferry pembina Green Map. Hal ini juga diamini oleh Catur Yudha, “Setiap kegiatan dari program Sungaiku Bersahabat Kembali saling berhubungan, sehingga hasil akhir yang diperoleh bisa semakin lengkap dengan menggabungkan data dari beberapa tim”, ungkap koordinator PPLH Bali ini.
Anak Sungai Sedang Beraksi
Peta Hijau di Indonesia yang dilakoni kalangan putih abu-abu (siswa SMA-red) baru pertama kali dilakukan. “Sebelumnya keberhasilan anak-anak Sekolah Dasar di Kuba dalam menciptakan sebuah Peta Hijau berbahan dasar kapur dan ikon yang tersusun atas campuran tanah liat, memotivasi anggota tim peta hijau PPLH Bali untuk lebih kreatif dalam menggagas suatu ide baru dalam hal iconing”, ungkap Ferry.
Proyek Peta Hijau Sungai pada Program “Sungaiku Bersahabat Kembali” di PPLH Bali ini melibatkan pelajar SMA-SMK di Denpasar. “Melalui proses keterlibatan itu diharapkan dapat membuka cakrawala dan orientasi baru ke arah perkembangan kota atau kawasan sungai khususnya yang lebih arif, tertata dan berkelanjutan”, ujar Catur Yudha. Semoga!! (BGC)



“Sungai adalah Sumber Kehidupan”
klo gk lupa, kata2 itu sering menempel di dinding waktu saya sekolah dasar dulu, tpi gk ngerti jga mksdnya apa…
tpi yg di ingat itu..waktu dulu paling enak di sungai itu mancing, trus sambil masak nasi (ngaliwet) itu ikannya gede2 dapetnya, trus di bakar gtu…sambil nunggu nasinya mateng trus biasanya mandi dlu,,,bis berenang , laper, makan ikan hasil pancingan..lengkap kan,,(jdi kyk si bolang dech)…peace yo..
sungaiku dulu tak begini, tpi sekarang koq jadi gini…(nyanyi..)
wah,tanaman bakau perlu ditnam untuk masa depan.
salam buat anak pplh dari sman 6 dan yang lain.
Bangga bisa kenal dg adik2 yg punyak kepedulian untuk memperbaiki lingkungan Denpasar khususnya dan Indonesia nantinya..
Lanjutkan berjuangan terus, jangan pernah putus-asa