Water Transparancy
Cara sederhana mengukur kekeruhan air
Meneliti kualitas air sangat beragam caranya. Mulai dari yang paling sulit sampai yang paling sederhana seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan Tim Riset Kualitas Air “Sungaiku Bersahabat Kembali”.
Standar kualitas air di perairan umum dapat ditentukan dari beberapa parameter. Salah satunya adalah parameter Fisika yang meliputi; Bau, Kekeruhan, Rasa, Warna, dan Suhu. Kita bisa menggunakan panca indra untuk mengamatinya. Tetapi kadang kita membutuhkan alat bantu untuk hasil yang lebih valid, seperti contohnya thermometer untuk mengukur suhu air.
Bagaimana dengan kekeruhan? Adakah cara sederhana untuk mengukur kekeruhan air? Tim Riset Kualitas Air ”Sungaiku Bersahabat Kembali” akan berbagi tips sederhana Water Trnsparancy untuk mengukur kekeruhan air.
Siapkan alat dan bahan:
♦ Botol minuman bekas yang transparan dengan tutup botol berwaran putih.
♦ Penggaris
♦ Sepidol
♦ Piasu/cuter
Caranya sangat mudah, beri tanda dengan menorehkan garis-garis di badan botol untuk jarak setiap 1 inci. Potong dasar botol dan beri tanda silang dengan spidol warna merah pada bagian dalam tutupnya.
Cara menggunakannya juga cukup mudah; pasang tutup botol, masukkan air lewat dasar botol yang telah dipotong untuk lubang. Buka tutup botol perlahan dan biarkan air keluar sedikit demi sedikit. Amati kekeruhan airnya, air dalam botol akan berangsur angsur jernih hingga kita dapat melihat tanda silang di tutup botol dengan jelas. Setelah tanda silang dapat terlihat jelas, segera eratkan tutup botol agar tak ada lagi air yang keluar. Amati berapa inci tinggi air yang tersisa untuk digunakan sebagai ukuran tingkat kekeruhan air.
Sederhana bukan?
Ayo Tanam Bakau!
Tanam bakau, itulah kegiatan yang kami lakukan pada tanggal 28 Mei 2010. Kegiatan yang diadakan oleh Komunitas Mahasiswa Peduli Lingkungan Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (KMPL HMKM) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana diselenggarakan di daerah Tanjung Benoa. Mungkin tempat yang cukup jauh dari PPLH Sanur. Walaupun jauh, kegiatan ini adalah salah satu wujud kepedulian kami terhadap lingkungan, jadi bukan masalah jarak yang kami tempuh. Pukul 14.00 wita, kami berangkat menuju Tanjung Benoa. Cuaca yang cukup bersahabat temani perjalanan kami. Ketika di perjalanan, seorang teman sempat berujar, “Rasanya sejauh mata memandang jalan yang kami lewati tak habis-habis, ditambah lagi jalan yang hanya lurus hampir tak ada belokan. Ibaratnya fatamorgana tak berujung”. Maklum, kami melalui Jl By Pass Ngurah Rai yang memang lurus hingga ke arah Nusa Dua.
45 menit perjalanan, kami pun sampai di Tanjung Benoa, ternyata kami terlambat 20 menit dari waktu yang ditentukan panitia. Akibatnya, kami tak bisa mengikuti acara pembukaan. Suasana sangat ramai dipenuhi oleh para aktivis lingkungan yang tergabung dari beberapa SMP, SMA, dan dari Universitas Udayana. Tak banyak basa-basi, setelah dibagikan tanaman bakau dan tali rafia, kami pun bergegas menanam bakau pada tempat yang telah disediakan panitia. Satu per satu tanaman bakau ditanam hingga 500 tanaman bakau pun berhasil tertanam dalam waktu yang cukup singkat.
Tanaman bakau memiliki habitat di daerah rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Selain itu, tanaman bakau tumbuh di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik diteluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai dimana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Tumbuhnya bakau dengan subur ini berfungsi mengurangi polusi di udara, sebagai penyeimbang ekologis dan dapat mencegah abrasi serta mampu menahan gelombang pasang air laut (tsunami) sehingga risiko gempa yang dihadapi masyarakat pesisir pun semakin kecil.
Tak hanya menanam bakau, kegiatan peduli lingkungan ini dilanjutkan dengan aksi bersih di sekitar lokasi penanaman. Belasan karung penuh sampah berhasil terkumpulkan. Sampah yang terkumpul sebagian besar sampah plastik dari limbah rumah tangga yang terbawa ke Tanjung Benoa. Panas matahari sore mulai terasa menyengat tubuh kami, sehingga usai aksi bersih sampah kami duduk-duduk santai sambil menyantap camilan yang telah disediakan. Panitia penyelenggara pun mengadakan perlombaan menyelipkan balon di kedua paha. Semua menjagokan kandidat yang mewakili sekolah masing-masing dan instansi. Sungguh tak menyangka, kami dari PPLH menjadi juara 2 dalam perlombaan itu. Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Gerakan Mangrove Lestari (GERMARI) ini adalah salah satu kegiatan yang dapat ditiru oleh masyarakat luas karena sebagai wujud cinta kita pada bumi. Bumi saja bisa menjaga kita, jadi tidak ada salahnya kita juga ikut menjaga bumi. (BGC)
Jadi Narasumber Semalam
Matahari mulai tenggelam, tim Cydoc (Cyber Document) yang diwakili oleh Seni Ariyanti, Dwi Agustini, dan Irwansyah sudah mulai bersiap-siap untuk wawancara di radio. Tepat pukul 18.30 WITA, rombongan dari PPLH Bali siap berangkat dengan menggunakan kendaraan milik Catur Yudha Hariani, Direktur PPLH Bali yang akrab kami sapa Mbak Catur. Studio yang akan kami datangi adalah studio radio Bali FM (98.90) yang berlokasi di jalan Pundak 9x Batubulan, Gianyar. Rasa gugup dan canggung mengiringi setiap langkah menuju ruangan studio. Beberapa menit berlalu, suara hentakan kaki menaiki tangga yang kami lewati tadi semakin keras ke arah kami. Muncullah seorang pria berjaket yang tak asing bagi kami. Anton Muhajir, pria itu yang notabene pernah melatih tim Cyber Document tentang Blog & Website. Anton Muhajir atau lebih akrab dipanggil Mas Anton mengundang kami untuk menghadiri wawancara Radio Kesehatan dan Pendidikan ini.
Kami dipersilahkan memasuki ruangan wawancara, dan berkenalan dengan broadcast Bali FM saat itu, Ajun Putra. Kami semakin deg-degan, seakan minggu malam (18/04) itu menjadi malam yang akan menghujani kami dengan beribu pertanyaan dari sang penyiar. Wawancara malam itu seputar blog Bali Gadang dan kegiatan kami selama di PPLH. Catur Yudha menjelaskan tentang kegiatan PPLH secara mendetail beserta tim-tim yang terbentuk di PPLH.
PPLH dibentuk sebagai wujud keprihatinan terhadap berbagai masalah lingkungan. ”Banyak anak muda menggunakan masa remajanya untuk melakukan hal yang merugikan. Disinilah peran PPLH Bali yaitu untuk mengajak dan mengarahkan anak sekolah khususnya SMA/SMK se-Denpasar dan sekitarnya untuk peduli terhadap lingkungan dan sungai”, ungkap Catur Yudha. Hal ini juga dialami oleh Dwi Agustini yang menyatakan bahwa dewasa ini sungai-sungai di Bali khususnya di Kota Denpasar sudah banyak tidak berfungsi sebagaimana mestinya. (Baca artikel sebelumnya Maysaroh : “Kami Sudah Biasa MCK di Sungai” mengenai keadaan di sungai Badung)
Kami juga ditanyai seputar pengalaman saat menelusuri sungai di Kota Denpasar, pendapat tentang lingkungan utamanya sungai yang mulai tercemar, dan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masalah lingkungan lainnya. Satu persatu dari kami menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dimulai dari Seni, Dwi, dan Irwan. Perasaan gugup tak karuan menghampiri kami, saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ajun Putra. Maklumlah, ini adalah kali pertama kami memasuki dunia broadcast radio. Kami yang biasanya mewawancarai orang-orang, malah kali ini kami yang diwawancarai. Deg-degan, itulah yang bisa kami rasakan.
Usai Ajun melontarkan pertanyaannya, kami pun break sebentar. Saat break kami mendapat kesempatan untuk me-request lagu. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, satu per satu dari kami pun me-request lagu. Pukul 19.35, siaran pun kembali dimulai. Kami kembali dihujani pertanyaan oleh Ajun. Akhirnya sampailah pada pertanyaan terakhir yakni seputar pendapat dan tanggapan kami terhadap keadaan sungai di Denpasar. Dengan perasaan tak sabar kami bertiga pun menjawabnya. Kami menyatakan keprihatinan dengan kondisi sungai sekarang. ”Sungai di Denpasar telah tercemar akibat perilaku manusia sendiri. Sungai sekarang menjadi mulifungsi, tidak hanya untuk membuang sampah, tetapi digunakan sebagai tempat mencuci, MCK, dan sebagainya. Hal ini tentu berdampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungan”, tutur Seni.
Wawancara yang sangat menyenangkan ini pun harus berakhir pukul 20.00. Perasaan lega akhirnya datang. Usai wawancara, kami bertiga (Seni, Dwi, Irwan) kompak merasa menyesal. “Kenapa sih wawancaranya harus selesai?, kami kan masih ingin ditanya-tanya lagi!”, seru kami bertiga. Undangan ke Radio Bali FM ini banyak memberikan pengalaman, kami dapat mengetahui seputar kegiatan penyiar saat broadcast. Kami yang masih awam dalam hal siaran, sangat berterima kasih kepada Catur Yudha dan Anton Muhajir yang telah memberikan kesempatan mengkampanyekan kepedulian lingkungan lewat radio Bali FM.
Bersahabat dengan Sampah Plastik
Aktivitas manusia memiliki kaitan yang erat dengan sampah, bak ibu dengan anaknya. Mulai dari sampah organik hingga anorganik. Sampah organik tidaklah begitu merugikan bagi lingkungan, karena sampah organik masih bisa diuraikan oleh alam. Kini yang menjadi masalahnya adalah sampah anorganik, seperti plastik karena sampah ini sulit didegradasi oleh alam. Plastik setiap hari dijumpai di lingkungan seperti pada kemasan makanan hingga minuman. Keistimewaan plastik yang ringan, transparan, dan tidak tembus air menjadikannya sangat digemari oleh pengusaha sebagai kemasan produknya. Hal ini tentu berakibat buruk bagi lingkungan sekitar kita.
Menurut data Yayasan Wisnu tahun 2007, rata-rata volume sampah yang dihasilkan warga Kota Denpasar sebesar 1.029 m3 per hari. Dari jumlah tersebut sekitar 689.43 m3 merupakan sampah organik (berupa daun, tumbuhan, sisa makanan), 267.54 m3 sampah anorganik, dan sisanya jenis lain. Jika dikumpulkan, dalam sebulan terdapat sekitar 8026.2 m3 sampah plastik, atau 96314.4 m3 selama setahun. Jumlah ini tentu sangat mengkhawatirkan, terlebih sampah plastik sulit untuk didaur ulang. Kalaupun alam dapat mendaurnya,memerlukan waktu 200 sampai 1000 tahun agar plastik tersebut dapat terurai dengan baik. Hal ini tentu memerlukan pengelolaan. Jika memilih jalan pembakaran, akan mengakibatkan polusi di udara yang dapat membahayakan mahkluk hidup termasuk manusia. Oleh karena itu diperlukan solusi yang tepat dalam mengolah sampah dengan teknologi yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan memanfaatkan kembali sampah plastik menjadi produk kerajinan seperti tas, dompet, tempat pensil dan sebagainya. Hal ini telah dilakukan di kota Yogyakarta yang memanfaatkan sampah plastik menjadi suatu karya yang memiliki nilai jual.
PPLH Bali, lembaga non pemerintahan yang bergerak di bidang lingkungan pun tak mau ketinggalan. PPLH Bali sejak tahun 2009 memulai aksinya mencontoh kreativitas yang dilakukan masyarakat di kota pelajar tersebut. Kreativitas ini diciptakan sebagai wujud peduli terhadap lingkungan yang dimotori oleh salah satu karyawan PPLH Bali, Made Hariana.
Program ini tak hanya mengolah sampah plastik menjadi tas, namun juga sebagai bentuk penyadaran terhadap masyarakat akan bahaya sampah plastik. Jika sampah plastik dimanfaatkan dengan baik, maka akan menghasilkan suatu karya yang dapat memiliki nilai jual. Upaya penyadaran masyarakat antara lain dilakukan dengan mengajak serta masyarakat sekitar, seperti karyawan PPLH, pelajar SD, dan Lembaga Sosial Masyarakat untuk turut serta memilah sampah plastik. Terkadang sampah plastik juga diperoleh dengan membeli dari pemulung dan warung-warung dengan harga 4000/kg.
Proses pengerjaan tas plastik ini cukup menarik karena dalam pembuatannya kita dapat memilih produk yang sesuai selera kita. Adapun bahan dan alat yang harus disiapkan untuk membuat tas antara lain, sampah plastik (kemasan plastik), mesin jahit, kain pelapis, dan resleting. Pertama sampah plastik harus dipilah agar dapat diketahui sampah yang kualitasnya masih baik dengan sampah yang kualitasnya sudah buruk atau robeknya tidak rapi. Selanjutnya sampah yang telah dipilah dicuci untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel. Usai pencucian, sampah-sampah tersebut harus dipilah kembali sesuai jenis produknya. Kemudian kita dapat potong-potong dengan cutter untuk membuet ukuran yang sama. Jika ukuran telah sama, plastik tersebut dijahit dan disambung, serta dilapisi dengan kain pelapis agar terlihat lebih tebal.
Selanjutnya kita dapat membentuknya sesuai keinginan misalnya kotak pensil ataupun dompet. Plastik yang sudah dibentuk, ditambahkan pinggiran agar lebih rapi. Terakhir, kita dapat menambahkan resleting pada barang yang telah dibuat. Tas, kotak pensil, ataupun dompet siap untuk dipakai.
Produk Olahan Sampah Plastik
Cukup panjang proses untuk membuatnya. Kendalapun tak jarang dihadapi selama memproduksi tas plastik ini, antara lain sulitnya memperoleh plastik yang masih bagus, sulitnya menjahit karena kurangnya tenaga kerja, serta sulitnya dalam melakukan pemasaran akibat kurangnya minat masyarakat lokal dengan produk daur ulang. ”Jika ada masyarakat lokal yang berminat, mereka adalah orang-orang yang bergelut dalam bidang lingkungan”, ungkap Made Hariana. Made Hariana mengajak seluruh masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik, serta memanfaatkan lagi sampah plastik yang sudah ada menjadi barang yang siap pakai. Bersahabat dengan sampah plastik, siapa takut? (BGC)
Apa sih World Silent Day itu?
“Pernah ngga bumi itu istirahat?” Kalau kita menjadi bumi pastilah merasa lelah karena setiap hari harus berputar pada porosnya dan berputar mengelilingi matahari. Sekarang bumi pun terasa semakin panas akibat pengaruh global warming atau pemanasan global. Adanya global warming membuat kerugian besar bagi bumi yaitu lapisan ozon bumi semakin tipis dan suhu semakin panas. Sulit rasanya kita sebagai manusia untuk berbafas, mendapatkan udara yang segar karena udara di bumi yang telah tercemar oleh berbagai polusi. Bagaimana dengan bumi? Tentunya bumi pun merasa kesulitan untuk bernafas.
Dari situlah awal mula pemikiran para aktivis lingkungan yang menginginkan agar dampak dari global warming yang merugikan bumi dapat dikurangi dan bumi pun dapat bernafas dengan lega. Terpikirlah untuk membuat suatu hari peringatan dimana hari tersebut dapat menyadarkan diri manusia untuk memelihara bumi, layaknya Hari Raya Nyepi yang dimiliki Bali yang dapat mengurangi emisi karbon di udara sebanyak 20.000 ton dalam sehari.
Nah, aktivis lingkugan yang terdiri dari 4 lembaga yaitu Yayasan Wisnu, PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup), WALHI (Wahana Lingkungan Hidup), dan BOA (Bali Organic Assosiation) pun membentuk kolaborasi untuk mewujudkan ide tadi. Selain itu pada tahun 2007 lalu, Konferensi Internasional mengenai perubahan iklim diadakan di Bali. “Malu donk, kalau kita sebagai tuan rumah dari Konferensi Internasional tidak memberikan sumbangan pemikiran yang berarti bagi lingkungan” bahas keempat lembaga yang terdiri dari para aktivis lingkungan. Hal itu juga menjadi suatu cambuk untuk mengokohkan niat mereka untuk mewujudkan ide tersebut. Akhirnya kolaborasi pun terbentuk dengan nama BCCC (Bali Colaboration for Climate Change) atau KBPI (Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim). Kemudian ide tadi pun diimplementasikan ke dalam suatu hari yang dinamakan World Silent Day atau Hari Hening Sedunia. Hari yang diperingati setiap tanggal 21 Maret, dimulai dari tahun 2008 hingga saat ini. Bukanlah tanpa alasan 21 maret diperingati sebagai hari hening sedunia karena tanggal 21 maret terjadinya titik equinok yakni matahari tepat berada di garis katulistiwa sehingga dikatakan sebagai hari baru bagi bumi. Selain itu tanggal 21 maret juga berdekatan dengan Hari Air Sedunia yang jatuh tepat pada tanggal 22 maret.
Meskipun World Silent Day belum seutuhnya diakui dunia karena belum terkumpulnya 10 juta tanda tangan sebagai persyaratan resmi suatu peringatan agar diakui dunia, akan tetapi banyak masyarakat yang mengetahui World Silent Day dan turut mengkampanyekan hari tersebut. Selain itu diantara mereka juga telah membantu untuk mengumpulkan tanda tangan, meski tanda tangan yang terkumpul baru mencapai 9000 tetapi mereka tetap berjuang tanpa menyerah. Misalnya pengumpulan tanda tangan yang telah dilakukan di sekolah-sekolah, di tempat-tempat umum, sampai pada lembaga-lembaga. Tidak hanya di Indonesia, tetapi di luar negeri misalnya di negara Jepang, Jerman dan Australia. Yang terpenting dalam pengumpulan tanda tangan ini adalah tidak adanya unsur paksaan dan menekankan pada kesadaran diri.
Adapun yang dapat kita laksanakan sebagai wujud partisipasi dalam World Sient Day yaitu mengistirahatkan segala aktivitas kita yang menggunakan alat-alat eletronik misalnya mematikan handphone, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, dan mengurangi aktvitas boros sumber daya. Hanya selama 4 jam, dari pukul 10.00-14.00 . Dengan kesadaran diri, kita dapat melaksanakan hal-hal yang lebih bermanfaat walaupun tanpa listrik. Umpamanya saja kita dapat melestarikan lingkungan dengan mengadakan acara tanam sejuta pohon, menadakan aksi bersih sampah, bersepeda, membaca buku, ataupun hal lain yang bermanfaat untuk lingkungan.Yah,, rasanya bukan masalah deh kalau berkorban untuk bumi selama 4 jam. Karena dalam waktu singkat ini kita telah memberikan kesempatan bernafas bagi bumi dan setidaknya dapat membuat umur bumi lebih panjang. Kalau bumi tersenyum, masa depan pun akan tersenyum. Mari dukung World Silent Day dan Selamatkan Bumi kita! (BGC)
Ayo dukung World Silent Day!




